Rabu, 15 Februari 2017

Jalur Terbesar Penyebar Berita Hoax



“Hoax merupakan istilah untuk menyebutkan sebuah berita palsu atau tidak sesuai dengan kenyataan untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. “ (Wikipedia)


Media sosial menjadi platform yang paling sering digunakan untuk menyebarkan berita bohong atau hoax, demikian hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel).
Menurut Ketua Bidang Kebijakan Strategis Mastel, Teguh Prasetya,  tak kurang dari 92,4 persen responden mendapat hoax dari media sosial.

Sementara dari survei yang sama, 62,8 persen responden mengaku mendapat hoax dari aplikasi perpesanan, 34,9 persen dari situs web dan 8,7 persen dari televisi.

Soal konten atau isi hoax, 91,8 persen mendapati masalah politik, masalah SARA 88,6 persen, kesehatan 41,2 persen, makanan dan minuman 32,6 persen, keuangan 24,5 persen serta ilmu pengetahuan dan teknologi 23,7 persen.

Terkait intensitas, sebanyak 44,3 persen responden mengaku mendapat hoax setiap hari, 17,2 persen mengaku menerimanya lebih dari sekali sehari, 29,8 persen menerimanya seminggu sekali dan 8,7 persen sebulan sekali.

Menurut survei Mastel, survei ini dilakukan selama dua hari ini (12-13 Februari 2017 pada 1.116 responden, terdiri atas 68 persen laki-laki dan 32 persen perempuan. Mayoritas responden berusia 25-40 tahun (47,8 persen), diikuti usia di atas 40 tahun (25,7 persen) dan 20-24 tahun (18,4 persen).

Sebagian besar responden yang terlibat dalam survei ini adalah karyawan (49,3 persen), wiraswasta (19,9 persen) dan tidak bekerja (9,9 persen).

Maka kita sebagai pengguna media sosial harus pintar-pintar memilih dan memilah antara berita hoax dan berita real.




EmoticonEmoticon