“Hoax merupakan istilah untuk menyebutkan
sebuah berita palsu atau tidak sesuai dengan kenyataan untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk
mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.
“ (Wikipedia)
Media sosial menjadi platform yang paling sering
digunakan untuk menyebarkan berita bohong atau hoax, demikian hasil survei
Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel).
Menurut Ketua Bidang Kebijakan Strategis Mastel, Teguh
Prasetya, tak kurang dari 92,4 persen responden mendapat hoax dari media
sosial.
Sementara dari survei yang sama, 62,8 persen responden
mengaku mendapat hoax dari aplikasi perpesanan, 34,9 persen dari situs web dan
8,7 persen dari televisi.
Soal konten atau isi hoax, 91,8 persen mendapati
masalah politik, masalah SARA 88,6 persen, kesehatan 41,2 persen, makanan dan
minuman 32,6 persen, keuangan 24,5 persen serta ilmu pengetahuan dan teknologi
23,7 persen.
Terkait intensitas, sebanyak 44,3 persen responden
mengaku mendapat hoax setiap hari, 17,2 persen mengaku menerimanya lebih dari
sekali sehari, 29,8 persen menerimanya seminggu sekali dan 8,7 persen sebulan
sekali.
Menurut survei Mastel, survei ini dilakukan selama dua
hari ini (12-13 Februari 2017 pada 1.116 responden, terdiri atas 68 persen laki-laki
dan 32 persen perempuan. Mayoritas responden berusia 25-40 tahun (47,8 persen),
diikuti usia di atas 40 tahun (25,7 persen) dan 20-24 tahun (18,4 persen).
Sebagian besar responden yang terlibat dalam survei
ini adalah karyawan (49,3 persen), wiraswasta (19,9 persen) dan tidak bekerja
(9,9 persen).
Maka kita sebagai pengguna media sosial harus
pintar-pintar memilih dan memilah antara berita hoax dan berita real.
Sumber: TimesIndonesia

EmoticonEmoticon