Penggunaan media sosial
tidak hanya berujung pada hal-hal positif atau menyenangkan. Sebuah penelitian
menyatakan media sosial juga bisa memicu peningkatan depresi seseorang.
"Berinteraksi melalui
media sosial memang penting, tetapi jangan berpikir tak ada dampak dari
pengalaman berinteraksi secara virtual itu bagi seseorang," ujar asisten
peneliti epidemiologi dari Brown University's School of Public Health, Rhode
Island, Samantha Rosenthal, dilansir dari Antara, Jumat (16/9/2016).
Dalam studi yang
dipublikasikan dalam Journal of Adolescent Health itu peneliti melakukan survei
pada 264 orang di tahun 2013 dan 2014. Sebanyak 8 dari 10 orang ternyata mengalami
pengalaman negatif saat menggunakan Facebook, yakni dibully, menjadi korban
kesalahpahaman hingga memiliki kontak orang yang tak diinginkan.
Hasil studi menunjukkan,
gejala depresi ringan hingga sedang muncul pada seperempat partisipan. Risiko
depresi lebih tinggi 3,2 kali di antara mereka yang mendapatkan pengalaman
negatif saat berinteraksi melalui Facebook.
Mereka yang dibully berisiko
3,5 kali lebih tinggi terkena depresi dibandingkan yang tidak. Sementara
undangan pertemanan yang tak diinginkan menyumbang sekitar 2,5 kali risiko
depresi.
Peneliti mengatakan, risiko
depresi yang lebih tinggi setidaknya terjadi empat kali atau lebih menjadi
korban kesalahpahaman. Sementara satu hingga tiga kasus bullying berhubungan
dengan risiko depresi yang lebih tinggi.

EmoticonEmoticon